Kumpul bocah

Tenda kami berada di sudut paling rendah dari balai desa Deyangan, tempat 1000-an warga desa Krinjing mengungsi di luar ring 20 Merapi. Ya, paling rendah hingga akan menjadi kolam penampung air ketika hujan jatuh dengan deras. Pun begitu kami sangat betah di sini, kenapa? Ahh, coba tanya pada puluhan anak yang menyebalkan yang selalu membaui tenda kami dengan bau ompol maupun mi rebus yang tumpah di atas matras alas tenda kami.

Anak-anak dengan berbagai tingkah polahnya. Mereka memainkan apa saja di sini. Sulit sekali merebahkan badan di dalam 2 tenda besar berukuran 3×8 meter ini, tenda yang pernah berjasa saat keluarga kami menjadi pengungsi gempa Bantul 2006.

“Mas, minta mainannya!!”
“Mas, minta buku!!”
“Mas, minta maskernya!!!”
“Mas, ayo masakkk!!”

Dan ocehan-ocehan lain yang tak pernah berhenti sepanjang 3 minggu pengungsian ini.

Ada puluhan mainan di salah satu tenda kami, dan di situlah pusat bermain bagi anak-anak. Juga menjadi tempat tidur bagi mereka di malam hari. Itulah kenapa saya harus membawa 1 buah tenda yang sama lagi dari Bantul untuk tempat istirahat kami. Pun begitu, anak-anak tetap saja penuh di 2 tenda kami. Ya sudahlah.

Ada Fa’ul yang tawanya selalu lucu dengan mata memejam dan gigi yang coklat di tengahnya. Baru saja dia pulang dari rumah sakit selama 3 hari karena ISPA. Ada Aziz yang berperan menjadi pak guru dalam teater singkat malam minggu kemarin. Ada Herdi yang biarpun masih kelas 5, ternyata sudah kumisan. Maklumlah, sudah 3 kali dia tinggal kelas. Ada Ria dan Wiri yang selalu mengajak saya masak tiap pagi, mungkin bosan juga dia dengan menu nasi telur setiap kali makan.

Katanya dalam pertunjukan teater singkat kemarin,
“Saya ingin menjadi chef menggantikan Farah Quinn!!”

Ada juga Gunawan yang paling tua di antara mereka, yang tidurnya brutal seperti naik kuda.

Bermain dan belajar, setiap jam 7 hingga jam 1 siang mereka sekolah di tenda komando kecil. Kami menjadi gurunya. Setidaknya 1 anak akan belajar 2 jam setiap harinya. Lebih tepatnya membuat mereka melihat dunia dari cara pandang yang gembira di tengah bencana. Ada ratusan buku dan buku gambar beserta peralatannya di tenda kami. Dan itulah sarana ekspresi bagi mereka.

Sore hingga malam hari adalah waktunya bernyanyi, ada bermacam alat musik di sini yang tentunya menjadi sesuatu yang mudah dirusakkan oleh anak kecil. Tapi tak apalah asal senang. Tampaknya kali ini saya harus lebih terbiasa menyanyi lagu anak muda jaman sekarang, karena tentunya mereka tak akan pernah paham dengan lagu-lagu jaman dahulu.

Dan kami tak pernah tahu, seperti apa sejatinya bintang yang akan mereka berikan kepada kami setelah mereka pulang ke rumah. Tentu saja kami akan merindui mereka semua.

“petiklah bintang dan bawalah pulang,
berikan kepada guruku tersayang” ..vina pandu

~ jarody hestu
Deyangan, 17 November 2010

~ beranilah

Sunting ulang dari multiply, 18 November 2010
jarody hestu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

A fighter for freedom and justice from Palestine, Gaza.

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

%d bloggers like this: