Glenmore Return #11..Bertemu Sesepuh Sumbermulyo

Saya banyak bertemu para sesepuh di dusun ini, namun Pak Misno benar-benar membukakan mata saya tentang sosok seorang tradisional yang berpikiran moderat. Beliau adalah sesepuh paling tua yang saya kenal di sini, namun mempunyai cara pandang yang membuat orang lain berpikir bahwa beliau pernah menjadi orang yang terdidik di masa lampau. Pengetahuannya yang sangat luas membuat saya semakin larut di dalam pembicaraannya, hingga tak sadar bahwa berbatang-batang rokok telah habis selama pembicaraan itu.

Saya pertama kali bertemu beliau 8 bulan yang lalu, di malam sebelum ekspedisi akan dimulai. Saat itu di ruang keluarga rumah Pak Rosyid berkumpul beberapa orang warga, ketika kami sibuk merencanakan teknis pendakian keesokan harinya. Beliau berdendang lantang dengan suara paraunya sambil memangku si kecil Kevin, sebuah tembang Jawa Macapat yang saya tak tahu judulnya. Berdendang dengan cengkok yang jenaka yang menandakan bahwa dia amat menguasai kebudayaan Jawa. Lalu kami berbincang tentang banyak hal dengannya, ada satu hal yang selalu kami ingat hingga saat ini. Yaitu tentang jimat hanacarakanya.

Saya telah bercerita di tulisan sebelum ini tentang kepercayaan tradisi yang dipegang oleh penduduk. Tentang sesajen-sesajen yang dipersembahkan kepada hutan, tentang doa-doa yang diucapkan ketika akan membuka hutan pinus yang telah mati untuk ditanam bibit baru kembali, tentang ucapan dan mantra yang diucapkan sebelum memasuki hutan raya. Dan salah satu hal yang saya pegang dari Pak Misno ini adalah jimat hanacarakanya. Hanacaraka adalah sistem alphabet Jawa yang terdiri dari 20 huruf, ha-na-ca-ra-ka da-ta-sa-wa-la pa-dha-ja-ya-nya ma-ga-ba-tha-nga (baca a=o, ho-no-co-ro-ko,…). Kata-kata itu sendiri mengandung arti kurang lebih sebagai berikut:
hanacaraka   = ada perkelahian
datasawala   = dua ksatria
padhajayanya = sama kuatnya
magabathanga = semuanya mati

Arti filosofisnya seperti ini :
Ha ==>Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)
Na ==>Nur candra,gaib candra,warsitaning candara (pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi)
Ca ==>Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)
Ra ==>Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
Ka ==>Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam)
Da ==>Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)
Ta ==>Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)
Sa ==>Sifat ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)
Wa ==>Wujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas)
La ==>Lir handaya paseban jati (mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi)
Pa ==>Papan kang tanpa kiblat (Hakekat Allah yang ada disegala arah)
Dha==>Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar)
Ja ==>Jumbuhing kawula lan Gusti (selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya)
Ya ==>Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah /kodrat Illahi)
Nya==>Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan)
Ma ==>Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin dan mantap dalam menyembah Ilahi)
Ga ==>Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani)
Ba ==>Bayu sejati kang andalani (menyelaraskan diri pada gerak alam)
Tha==>Tukul saka niat (sesuatu harus dimulai tumbuh dari niatan)
Nga==>Ngracut busananing manungso (melepaskan egoisme pribadi manusia)

Sementara Caraka sendiri juga mempunyai makna santun yaitu, cipta, rasa dan karsa. Dasar dari pemakaian alphabet ini sudah disusun pada jaman Mataram Kuno dan masih dipakai hingga saat ini. Ada beberapa filosofis Jawa yang memposisikan sistem alphabet ini mempunyai “kekuatan” yang sangat kuat. Di Jogja sendiri, setiap nama jalan pasti juga ditulis dengan alphabet Jawa di bawah alphabet Latinnya.

Ada metode ucapan doa yang diambil dari susunan alphabet Jawa, Pak Misno yang mengajarinya kepada kami agar tidak tersesat di hutan Gunung Raung. Doa itu sendiri hendaknya diucapkan ketika kami bingung dan hampir putus asa dalam menentukan arah. Doa itu sendiri merupakan kebalikan susunan dari sistem alphabet Jawa; nga-tha-ba-ga-ma, nya-ya-ja-dha-pa, la-wa-sa-ta-da, ka-ra-ca-na-ha. Setelah ucapan doa itu biasanya ada ucapan dalam bahasa Arab yang hendaknya diucapkan, namun saya belum sempat menghafalkannya.

Dan kami selalu mengucapkan doa tersebut saat berada di hutan Gunung Raung, meskipun sambil tersenyum kegelian.

Begitulah Pak Misno, ketika saya berbincang kembali dengannya dalam perjalanan saya kemarin, beliau kembali menceritakan hal-hal bersifat tradisi tersebut. Saat mendengarkan dengan seksama segala yang beliau katakan, seolah-olah saya sedang berada dalam sebuah kuliah di mana seorang Damardjati Soepadjar menjadi pembicaranya. Sungguh, seorang tradisional yang sangat menarik karena beliau bisa memposisikan diri sebagai seorang modern dengan agama yang modern pula. Saat berbicara politik kami bisa larut di dalamnya, saat berbicara seni kami juga bisa larut di dalamnya, saat bicara tentang perladangan beliau pun bisa dengan fasih menjelaskan.

Sosok-sosok seperti beliau adalah sosok yang sederhana, yang masih akan tetap lestari selama manusia masih santun dalam memandang budaya.

Bersambung,

~ beranilah

Sunting ulang dari multiply, 23 April 2009
jarody hestu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

Generating a fearless and humanising narrative on Palestine!

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

krokettahu

(bukan) rahasia raharasi

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi, Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

%d bloggers like this: