Jakarta Maghrib

Sebegitu mahalkah Maghrib di Jakarta ? Tiba-tiba ingin menulis tentang Maghrib dan tentang Jakarta. Mendapat inspirasi untuk menulis ini selepas menonton sebuah film pendek kemarin malam di sebuah teater sederhana di gemerlap canda mahasiswa-mahasiswi Jogja tentang Jakarta. Jakarta Maghrib.

Maghrib, bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi sebuah patokan waktu yang begitu penting. Bukan lagi sekedar menjadi salah satu di antara 5 waktu yang diwajibkan bagi umat Islam untuk menunaikan sholat. Namun sudah menjadi kata umum penanda waktu khusus selama 1-1,5 jam di sekitar jam 6 petang. Mungkin juga karena waktu Maghrib berlangsung tak lebih dari 1,5 jam sebelum umat Islam menunaikan sholat Isya’, sama seperti halnya waktu Shubuh.

Bagi orang-orang di perkampungan dan desa, waktu sekitar Maghrib adalah sebuah waktu ketika sang ayah disambut oleh sang ibu dan anak-anaknya selepas mencari nafkah seharian tadi. Waktu Maghrib adalah ketika aroma teh atau kopi hangat menemani cerianya senda gurau anak-anak mereka dan tak lupa cerita-cerita tentang petualangan kota sepanjang hari tadi. Waktu sekitar Maghrib adalah ketika seorang ibu akan keluar rumah, lalu menjemput anaknya yang nakal yang terlambat pulang karena bermain dengan tetangganya dari jam 4 sore tadi. Waktu Maghrib adalah ketika sebuah surau di kampung penuh shaf-nya dengan jamaah dibanding waktu Zuhur dan Ashar tadi. Dan masih banyak kebaikan tentang waktu Maghrib. Subhanallah.

Lalu, bagaimana bagi masyarakat kota di mana hedonisme telah merasuk pada beberapa warganya??

Scene pertama dari film ini adalah seorang suami istri. Sang suami sedemikian penatnya seperti halnya suami-suami yang lain yang berpetualang di ramainya Jakarta. Sementara sang istri adalah seorang ibu yang menjalankan profesi mulia sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh sendiri bayinya. Bayinya menangis tak henti dan itu menyebabkan “jatah” sang suami agak terganggu beberapa hari ini. Dan saat ada kesempatan untuk menunaikan “jatah” yang tertunda karena sang bayi berhasil tidur, tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang. Berpikir, lanjut atau tidak? Mereka memutuskan untuk lanjut. Dan akhirnya, suara ketukan nenek sang bayi menyadarkan mereka untuk mengingat Maghrib.
“Ora ilokk, bayi kok disuruh tidur Maghrib Maghrib, ora ilok (tidak pantas).”
Lalu sang suami pergi keluar dengan muka cemberut.

Scene kedua adalah seorang penjaga masjid dan pemabuk. Mereka berdiskusi di warung milik sang penjaga Masjid. Sang penjaga masjid sedemikian sabarnya melayani si pemabuk yang berbicara tak jelas dan “ngaco”. Diskusi yang sederhana, sabarnya seorang penjaga masjid yang sudah tua itu meyakinkan si pemabuk bahwa betapa berharganya bagi dia menjalankan tugas mulia ini. Sebagai penjaga masjid. Diskusi lalu diakhiri setelah sang penjaga masjid mengambil peci dan kalung tasbih.
“Mau ke mana Pak?” tanya si pemabuk.
“Mau adzan Maghrib.” balas sang penjaga masjid lalu pingsan tak berapa lama kemudian. Maut menjemputnya.
Si pemabuk menangis taubat, semoga. Lalu pergi ke masjid dan menggantikan posisi sang penjaga masjid sebagai muadzin. Dia mengumandangkan adzan, adzan yang aneh dan terbolak-balik hingga mengundang penduduk berboyong-boyong mendatangi masjid tersebut. Tak seperti adzan yang biasanya.

Scene ketiga adalah 5 orang penduduk kota yang sedang menunggu Aki (si penjual nasi goreng) yang terkenal lezat. Saat itu waktu Maghrib, dan mereka akhirnya bertemu di taman perumahan sambil berdiskusi sebelum Aki datang. Banyak hal mereka diskusikan, pekerjaan, gosip-gosip tetangga, dan dari diskusi tersebut mereka akhirnya mengetahui jatidiri antar tetangganya. Padahal mereka sudah lama tinggal di perumahan tersebut!! Si Aki tak juga datang, seiring adzan Maghrib berkumandang. Mereka saling berpamitan dan bersalaman. Lalu teringat, bahwa mereka belum saling mengenal nama masing-masing. Dan akhirnya mereka menyebut nama mereka masing. Selama itu mereka tinggal di perumahan tersebut, dan mereka belum saling mengenal?? Bahkan nama antar mereka sendiri, astaghfirullahaladzim.

Scene keempat adalah sepasang lelaki dan perempuan di dalam mobil yang sedang mengejar waktu agar sampai di tempat pernikahan kerabat sebelum waktu Maghrib tiba. Dan percek-cokan hadir di antara mereka dengan tema utama, pernikahan. Mereka sudah pacaran bertahun-tahun, dan sekarang sedang mengalami masa rumit untuk menuju kepada jenjang pernikahan. Pada intinya mereka ingin saling menunjukkan bahwa mereka pantas. Namun si lelaki ini memang sedemikian temperamental wataknya. Sepertinya masa bertahun-tahun pacaran itu harus berakhir di mobil ini.

Scene kelima adalah seorang anak yang ingin bermain play station di persewaan. Namun ternyata sudah penuh oleh anak-anak lain. Lalu sedemikian rupa dia mengarang sebuah cerita takhyul tentang kuntilanak yang berseliweran menjelang waktu Maghrib di sekitar jalan tersebut. Ya, agar mereka takut dan pergi dari tempat tersebut. Lalu dia bisa seenaknya sendiri bermain. Dan berhasil, anak-anak yang lain takut, dan dia bebas bermain. Lalu adzan Maghrib berkumandang, apa yang terjadi? Dia termakan omongannya sendiri, dan ketakutan dalam perjalanan pulang ke rumah hingga ayahnya yang menemukannya meringkuk di jalan.

Scene terakhir adalah pertemuan antar kelima scene tadi. Si lelaki yang meminta “jatah” sedang makan nasi gorengnya Aki. Lalu berseliweran para penduduk yang menuju masjid untuk menyuruh si pemabuk keluar. Tak berapa lama kemudian, si perempuan lewat dengan mobilnya sambil menangis selepas meninggalkan si lelaki. Tak jauh dari situ si anak “play station” meringkuk di trotoar ketakutan dan dijemput ayahnya.

Jakarta, Jakarta, Jakarta, seperti inikah di waktu Maghribnya??

***

Beberapa minggu lalu saya menikmati sebuah Maghrib di Jakarta. Dan saya harus merelakan diri untuk tak menunaikan sholat Maghrib. Selama waktu sebelum Maghrib hingga selepas Isya’ saya tertawan di riuh ramainya halte busway Pasar Senen dan bus Trans Jakarta jurusan Pasar Senen-Harmoni-Kalideres. Pukul 16.30 meninggalkan stasiun Pasar Senen, dan pukul 21.30 baru sampai di rumah teman di Batu Ceper, perbatasan Tangerang. 5 jam perjalanan darat di tengah kota Jakarta melewati 2 waktu sholat. Dan Maghrib harus saya tunaikan dengan menjamaknya dengan Isya’. Kembali istighfar.

Batin saya di dalam bus,
“Subhanallah, orang-orang di dalam sini adalah orang-orang hebat. Mereka tiap hari merasakan seperti ini. Mengantri 1 jam di halte, lalu menaiki bus yang penuh sesak yang berjalan terpincang-pincang karena macetnya Jakarta di waktu Maghrib. Mereka hebat, demi sesuap nasi untuk keluarganya. Masya Allah, kagum.”

Lalu batin saya yang lain berkata,
“Bagaimana Maghrib mereka??? Apakah mereka menjamak sholat setiap hari??? Apakah tak ada cara yang lebih baik yang lain, di mana mereka bisa menjalankan sholat Maghrib di waktu Maghrib???”

Dan lalu sebuah pertengkaran hebat karena senggolan mobil diiring bunyi klakson berurutan di sekitar Kalideres-Batuceper.
“Apakah juga seperti ini setiap hari?”
“Sebegitu mahalkah senyum di Jakarta?”
“Sebegitu mahalkah Maghrib di Jakarta?”

Kata orang, suara rolling door yang dibuka dan mobil yang mulai meninggalkan rumahlah yang membangunkan orang Jakarta tidur, bukan suara muadzin yang mengumandangkan adzan Shubuh. Mereka rela pergi ke kantor sebelum Shubuh agar terhindar dari kemacetan parah. Apakah benar? Jikalau benar, berarti tak hanya Maghrib, Shubuh juga dan mungkin 5 waktu yang lain akan terbengkalai. Apakah benar?

***

pulang ke kotaku

Saat ini, saya tak terbiasa kehidupan seperti itu. Dan saya tak pernah membayangkan kehidupan seperti itu di masa depan. Namun itu bisa saja terjadi bukan? Pada diri saya? Wallahu a’lam.

Sepanjang Jakarta tak membuat manusia melalaikan Maghrib. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia lupa di 5 waktu sholat. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia lupa menggendong anak-anaknya. Sepanjang Jakarta tak membuat seorang suami lupa bercanda dengan istrinya. Sepanjang Jakarta tak membuat seorang istri lupa membuatkan teh hangat untuk suaminya. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia lupa senyum antar sesama. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia lupa bersedekah. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia serakah. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia melupakan Allah. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia melupakan Allah. Sepanjang Jakarta tak membuat manusia melupakan Allah dan sepanjang Jakarta tak membuat manusia melupakan Allah.

Jalanilah.
Laa haula wala quwwata illa billah.

~ be brave
jogja, 10 Desember 2012
hestu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

A fighter for freedom and justice from Palestine, Gaza.

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

%d bloggers like this: