Rumah kami (dikontrakkan)

Ruang tamu yang tetap menyimpan kenangan-kenangan masa lalu

Ruang tamu yang tetap menyimpan kenangan-kenangan masa lalu

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di ruang tamu ini masih terpasang 2 gambar Masjidil Haram yang berbingkai. Saya lupa semenjak kapan Bapak memasangnya, kalau tidak salah ingat semenjak saya SMP. Itu berarti di pertengahan dekade 90-an. Yang masih bertahan awet tentu saja kursi kayu berukir dengan alas duduk dan sandaran dari anyaman rotan ini. Kalau yang ini saya tak ingat kapan ada di sini, lha wong lebih tua usia si kursi daripada saya, hehe. Begitupun 2 foto keluarga berbingkai ketika saya masih berusia 6 bulanan dalam pangkuan Ibu. Tak pernah diturunkan oleh Bapak. Batin saya, kenapa tidak diturunkan dan diganti dengan foto keluarga terbaru ya? Hehehe.

Rumah masa kecil saya sebelum sekarang berkelana ke mana-mana. 17 tahun dekat dalam bimbingan orang tua di Semarang. Dan memang selama 13 tahun terakhir ini lebih akrab dengan Jogja, eh..lebih tepatnya Bantul, hehe.

2 gambar Masjidil Haram tersebut adalah perwujudan keinginan Bapak Ibu, belum tercapai hingga saat ini. Mungkin saja Allah sedang menguji kesabaran Bapak dan Ibu tak henti-hentinya. Tak ada doa yang lebih mulia dari seorang anak kecuali mendoakan mereka agar selamat dunia dan akhirat dan tentu saja diberikan kemudahan Allah untuk sesegera mungkin menunaikan ibadah haji. Aamiin Yaa Rabb.

Bapak sudah berusia 68 tahun saat ini, sementara Ibu berusia 56 tahun. Tiada yang terlambat, sekarang saatnya Pak, Buk. Bersama kita pindah ke Jogja, dekat dengan anak-anak, dekat dengan cucu. Lalu kita kontrakkan rumah ini. Ini salah satu jalan terbaik. Bapak pensiunan PNS yang menerima pensiun tak seberapa tiap bulannya, sementara Ibu menjual bensin eceran dan gas 3 kiloan di warung samping rumah. Tentu saja masih cukup berat, sementara anak-anaknya juga belum mampu untuk mengusahakan dana yang besar. Dengan mengontrakkan rumah ini, insya Allah hasilnya bisa buat sangu berhaji. Aamiin Yaa Rabb.

“Tapi mohon jangan dijual, tak rela sebagai anak jika rumah ini harus dijual. Sedih, terlalu banyak kenangan yang kita jalani bersama di sini. Saya mohon jangan dijual. Ingat kan Pak, Bu’, tahun 1982 baru 11 rumah yang berdiri di kampung Kedondong ini sebelum Bapak dan Ibu menjadi penghuni ke-12. dan sekarang? Sudah hampir 200 rumah berdiri di kampung Kedondong ini. Dulu masih belepotan lumpur sisa banjir untuk bertamu ke rumah tetangga. Sekarang sudah jalan beraspal. Kenangan rumah ini sudah berumur 31 tahun. Bapak dan Ibu sudah termasuk yang dituakan di kampung ini.”

Salah satu kendalanya memang sebagian besar peminat tak tertarik untuk mengontrak rumah ini. Mereka berani memasang harga untuk membeli, tapi tak mau jika harus mengontrak selama beberapa tahun. Dengan membeli mereka mendapatkan kebebasan, entah dijadikan homestay, kantor, wirausaha rumah tangga, penitipan anak, dan segala macam fungsi lainnya.

Sekali lagi sebagai anak tak rela jika rumah ini harus dijual.

Pak, Bu’, istiqomah menabungnya, lalu kita kontrakkan rumah ini. Barakallahu.

Ibu sedang menonton TV di ruang keluarga

Ibu sedang menonton TV di ruang keluarga

Bapak sedang menjaga warung

Bapak sedang menjaga warung

Salah satu yang saya sukai dari rumah ini adalah rumah ini berseberangan dengan masjid. Hanya dibatasi jalan dan taman kampung. Dulu masjid An-Nur ini masih kecil, hingga sekarang menjadi masjid terbesar di kelurahan Lamper Tengah ini. Masih saja teringat masa kecil, masa remaja di masjid ini. Masjid tak hanya berfungsi untuk ibadah, namun juga mempunyai fungsi sosial di dalamnya. Semakin sering ke masjid berarti semakin erat pula kekerabatan kita dengan jamaah-jamaah yang lain. Bapak dan Ibu contoh nyatanya.

Rumah kami tampak dari sisi timur dengan Masjid An-Nur di sebelah utara

Rumah kami tampak dari sisi timur dengan Masjid An-Nur di sebelah utara

Tampak kiri (utara) rumah kami

Tampak kiri (utara) rumah kami

Tampak depan (timur) rumah kami, tepat di gapura kampung

Tampak depan (timur) rumah kami, tepat di gapura kampung

Sudah sekitar 5 tahun ini halaman rumah disewa Pak Slamet (salah seorang tetangga lain kampung) untuk usaha bengkel mobilnya. Bukan disewa ding tepatnya, lebih ke arah “bagi hasil”. Karena tak ingin memberatkan Pak Slamet juga, ya kalau bisnisnya lancar, kalau tidak? Dan alhamdulillah, bengkel Pak Slamet ini lumayan ramai konsumennya, mengingat posisi rumah yang strategis di tepi jalan “agak raya”. Sebagai tuan rumah tentu saja senang.

Halaman rumah

Halaman rumah

Halaman rumah digunakan untuk usaha bengkel mobil tetangga

Halaman rumah digunakan untuk usaha bengkel mobil tetangga

Ibu suka sekali dengan tanaman dan pepohonan. Dan begitulah, kanopi hijau memayungi rumah kami. Ada pohon manga, ada pohon matoa, ada belimbing dan tanaman-tanaman kecil dalam pot, ada bunga-bungaan yang digantung pada tembok, ada tanaman menjalar, lengkap sudah.

Entry rumah

Entry rumah

Rumah yang rimbun pepohonan

Rumah yang rimbun pepohonan

 Saya tampilkan beberapa gambar rumah kami, sebagai salah satu pertimbangan bagi Anda calon pengontrak rumah ini. Ciri khas rumah tahun 80-an masih terjaga. 🙂

Ruang tamu

Ruang tamu

Teras rumah

Teras rumah

Salah satu kamar tidur

Salah satu kamar tidur

Ruang makan

Ruang makan

Spesifikasi rumah

  • Alamat                  : Jl. Kedondong Tengah No.12, RT.04/IV Kel. Lamper Tengah, Semarang Selatan, Kodepos 50248
  • Luas tanah          : 300 meter2 (panjang 20 meter, lebar 15 meter)
  • Luas bangunan  : 200 meter2
  • Ruang                   : 1 kamar tamu, 4 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 mushola, 1 ruang TV, 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 WC, 1 kamar mandi/WC, 1 dapur, 1 warung, 1 gudang, 1 ruang cuci (terbuka), 1 garasi.
  • Dibangun             : Tahun 1982

 Situasi lingkungan

Rumah kami terletak di tepi jalan yang merupakan penghubung jalan Mrican dengan jalan Majapahit. Jalur alternatife bagi kendaraan dari arah selatan (Jogja/Solo) untuk menuju daerah timur Semarang. Kondisi yang ramai menyebabkan beberapa rumah tetangga yang menghadap jalan raya banyak digunakan untuk bisnis, kantor, toko, bahkan hotel. Halaman rumah kami sendiri disewakan kepada salah satu tetangga untuk usaha bengkel mobil. Tepat di utara rumah adalah masjid An-Nur, masjid terbesar di kelurahan Lamper Tengah.

Rumah ini cocok untuk dijadikan kantor, wirausaha rumah tangga, homestay, dan beberapa bidang usaha yang membutuhkan keramaian konsumen di dalam usahanya.

Masa kontrak

Masa kontrak minimal adalah 3 tahun dan maksimal 5 tahun.

 

Nego – Kontak saya

Jika Anda tertarik untuk mengontrak rumah kami, silakan hubungi saya di nomor ini.

 Jarody Hestu (081 328 173 781 / 0857 020 969 25-whatsapp)

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Jazakumullahukhoiro. 🙂

21 Mei 2013

 

P.S. Promo ini juga saya teruskan di beberapa media online lainnya (toko online). Spesifikasi lengkap ada di sana. Bismillah.

PROMO DI Toko Bagus Online

PROMO DI Kaskus

PROMO DI Berniaga

Bapak Ibu

Bapak Ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

Generating a fearless and humanising narrative on Palestine!

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

krokettahu

(bukan) rahasia raharasi

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi, Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

%d bloggers like this: