Say love with cooking (introducing : Dapur Harum)

istriku juara copy

Jemarinya begitu “lanyah” bergerilya di medan pertempuran yang kecil, sebuah dapur berukuran 150 x 120 cm dengan meja dapur keramik sebagai alas kompor gas 2 perapian. Di sebelahnya wastafel, tempatnya membersihkan secara teliti helai demi helai sayuran, mencincang-cincang daging, membersihkan ikan. Sementara di depannya, “senjata tempurnya” bergantungan; wajan teflon, panci, sothil, saringan, parutan, sendok takar, sendok garpu, spatula, dan lain-lainnya. Meriah sekali bergemerincing untuk dapur sekecil ini, maklumlah lemari di belakangnya sudah penuh juga dengan perlengkapan tempurnya. Katanya pada saya suatu hari,

“Mas, rumah kita nanti, pokoknya bikin dapur yang gede ya, outdoor..tapi panci, wajan, alat-alat dapur dan lainnya digantung-gantung di atas biar gampang ngambilnya.”

Masih dalam ikhtiar menjemput rejeki untuk memiliki rumah sendiri, tapi paling tidak sudah mencicil dengan peralatan masak yang beraneka rupa di dapur. Kebiasaan mengumpulkan peralatan masak yang tak jarang membuat kami saling beradu mulut di pusat perbelanjaan. Tapi saya akui, saya selalu kalah, hehe.

Alhamdulillah Alloh mempertemukan kami menjadi halal tepat setahun lalu. Akan menjadi sebuah cerita yang panjang jika saya menulis kisah tentang kami, hehe. Istri saya suatu saat mengeluh,

“Mas, adek kenal mas yang dulu itu karena tulisan-tulisan dan blog mas, kenapa sekarang jarang menulis?”

“Jlebb”

Baiklah, saya pernah menjadi seorang blogger dan jiwa itu masih ada. Tak akan pernah hilang jiwa menulis itu, hanya setahun ini sedang bersembunyi saja. Sekarang, memasaklah..dan suamimu ini akan menuliskan tentang masakan-masakanmu. 🙂

***

IMG-20151114-WA0003

Momen paling romantis di dapur adalah saat saya sedang menggodanya, memeluknya dari belakang sementara tangannya sedang bergerilya dari teflon ke panci lalu ke talenan sembari mencuci bahan mentah di wastafel. Kadang dia menggeliat tak nyaman, tapi saya cuek saja, hehe.

 

Saya sangat tertarik akan memasak sejak dulu, maklumlah 14 tahun hidup seorang diri di Jogja dan jiwa “survive” saya mengharuskan untuk bisa memasak. Sangat sinergi sekali ketika jalan hidup saya juga harus bersinggungan dengan kegiatan memasak. Saya bekerja sebagai seorang Mountain Guide. Apa itu Mountain Guide? Saya sering mengantar wisatawan baik asing maupun domestik untuk mendaki gunung-gunung di Indonesia. Dari durasi perjalanan 2 hari hingga 8-10 hari. Pekerjaan ini mengharuskan saya harus mempunyai ketrampilan memasak. Ini bagian dari pelayanan kepada tamu-tamu saya selama menjalani trip. Saya harus menyiapkan breakfast, lunch, dinner untuk mereka di hutan dengan logistik maksimal dan peralatan dapur yang dibawa dari desa. Dan trip yang baik harus didukung dengan pelayanan makan yang sempurna dengan pilihan menu yang lezat bagi para tamu.

Begitulah, sebelum menikah ketrampilan memasak di alam terbuka sudah saya kuasai. Dan Alhamdulillah saya akhirnya menikah dengan istri saya yang sekarang ini, dan dia sudah pantaslah saya samakan dengan ibu saya untuk urusan memasak. Siapa yang lebih jago? Entahlah, kalau untuk urusan bumbu, perempuan jaman dahulu memang lebih berani. Takaran sudah di luar kepala, main feeling saja. Dan perempuan jaman dulu seperti ibu saya memang njawani dengan masakan-masakan khas Jawa di rumah. Sementara istri saya, dia tentunya lebih universal. Njawani belum, tapi pintar sekali bereksperimen, dengan bumbu-bumbu Jepang misalnya. Pokoknya, lebih menguasai untuk masakan-masakan yang aneh-aneh dan jarang didengar, hehe.

Saya menikmati saat-saat romantis ketika dia memasak, lalu saya melihat dari belakang, menanyakan tentang bumbu-bumbu, membantu menguleg bumbu. Lalu saat istri saya minta tolong untuk mencicipi hasil karyanya, saya hampir selalu bilang enak. Entahlah, apa memang saya tidak pandai menjadi juru icip-icip atau memang benar masakan istri saya itu enak, hehe. Tak lupa selesai memasak, naluri fotografi saya membuncah. Saya minta dia untuk menghidangkannya sesempurna mungkin dengan hiasan-hiasan yang cantik. Lalu saya memotret masakan tersebut dari segala sisi sebelum kami nikmati berdua bersama. Kadang beberapa waktu kemudian dia menanyakan,

“Mas kok belum diaplot di instagram?”

“Eheh.”

***

 

nasgor kemangi

Seperti hasil karya istri saya kemarin, lihat gambar di atas. Begitu menarik bukan tampilannya, dan rasanya? Hmm, saya tidak bohong, ini salah satu nasi goreng terenak yang pernah diciptakan oleh istri saya, hehe.

Saya sudah mempelajari bumbu-bumbunya, dan ini bisa jadi berguna untuk profesi saya. Bukankah nasi goreng adalah salah satu menu standar untuk breakfast? Hehe.

Saya deskripsikan sedikit bocorannya tentang masakan ini, hehe. Masakan ini adalah eksperimen istri saya dengan bumbu-bumbu yang berani. Sering makan nasi goreng kaki lima? Sebagian besar bumbu-bumbu mereka standar. Atau pernah makan nasi goreng khas hotel, ahh..itu pastilah nasi goreng bumbu Sajiku..micin. Kami tidak pernah mengolah makanan dengan bumbu micin/MSG selama ini. Kali ini istri saya menciptakan nasi goreng yang bernuansa rempah-rempah, Indonesia banget!

Istri saya memberikan nama, Nasi Goreng Kemangi Kuning.

  • Langkah pertama adalah membuat bumbu, uleg bawang putih, bawang merah, kemiri yang sudah disangrai, merica, ketumbar dan kunyit sampai halus. Takarannya? Silakan bermain dengan feeling, hehe.
  • Langkah kedua, tumis bersama jahe dan lengkuas yang sudah digeprek. Istri saya memakai coconut oil (kami anti sawit).
  • Tambahkan sosi dan bakso iris.
  • Tambahkan wortel, kol dan kemangi yang sudah diris.
  • Lalu masukkan nasi ke dalam wajan, taburi garam secukupnya. Masak hingga nasi menguning.
  • Dadar telur tipis, lalu iris dan digulung-gulung.
  • Sajikan di piring dengan telur gulung dihias di atas nasi menyerupai bunga, tambahkan ketimun dan tomat di pinggir-pinggirnya.

Mudah bukan. 🙂

***

 

Begitulah, 1 tahun ini begitu luar biasa. Salah satu hal yang membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan di luar kota adalah kembali kepada istri dan menikmati kegiatan dapur yang menyenangkan ini. Rumah adalah ketika petualangan beristirahat. Home is where your heart is. 🙂

In sya’ Alloh akan mencoba berikhtiar lagi menjemput rejeki dengan cara wirausaha di bidang kuliner. Istri saya memberi nama “calon usaha” kateringnya Dapur Harum. Mungkin akan launching di tahun 2016. Aamiin. Sejatinya seorang istri adalah “melangkah” atas ridho suaminya. :*

Be a mompreneur yaa abun. 🙂

~ jarody hestu

22 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

A fighter for freedom and justice from Palestine, Gaza.

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi Lingkungan, Energi dan Kebencanaan

%d bloggers like this: