Sekolah hati..ridho Allah itu terdapat pada ridho orang tua

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Kembali lagi tertampar, atau sekedar menjadi pengingat? Entahlah, yang pasti ini adalah apa yang sepatutnya dipegang oleh seseorang yang soleh/solehah. Peganglah. 🙂

Memang, sudah memahaminya secara otodidak dari cara saya memandang orang tua saya sendiri. Cara mereka mengajarkannya kepada saya. Lalu kejadian-kejadian di umur hidup duniawi ini, di mana orang tua adalah penuntun titik yang manusia akan tuju. Minggu malam kemarin dalam “sekolah hati” yang istiqomah untuk kesekian kalinya, kembali diingatkan lagi oleh mas Beringin dalam Kitabul Adab. Bahwa “ridho Allah itu terdapat pada ridho orang tua”.

Ibumu, Ibumu, Ibumu…lalu Bapakmu.

“Lhoh, jadi kita harus menurut semua kehendak orang tua?”

Iya, kecuali hal-hal syirik dan maksiat.

Sulitkah, tentu saja sulit jika kita berkehendak sesuai dengan ego kita. Itu tidak baik. Ego kita adalah pencipta kesombongan diri, sementara sikap (more…)

Traveler, mari berhenti menilai orang lain, kita perbaiki dulu diri kita sendiri (refleksi Waisak 2013)

Salam lestari,

Borobudur adalah tempat yang akrab bagi saya, mengingat profesi saya sebagai seorang guide. Setiap mengantar tamu-tamu asing, saya bersama guide berbahasa asing dari Borobudur akan mulai membaca relief dari gerbang sisi timur candi. Saya butuh bantuan dia, karena saya tak bisa membaca relief Borobudur. Relief akan dibaca searah jarum jam mengelilingi setiap tingkatannya hingga kembali lagi ke titik awal membaca lalu naik ke tingkat berikutnya untuk melanjutkan cerita. Itulah Mapradaksina, Daksina adalah timur di dalam bahasa Sansekerta. Itulah mengapa candi Borobudur menghadap ke timur, meskipun berpola simetris dan terkesan menghadap segala penjuru arah.

Hampir sama dengan Mapradaksina, Pradaksina adalah penghormatan yang dilakukan dengan berjalan pelan mengitari objek yang kita hormati sebanyak 3 kali (biasanya). Dilakukan dengan posisi Anjali yaitu kedua telapak tangan ditangkupkan di depan dada.

Pradaksina inilah yang menjadi salah satu puncak acara Waisak kemarin dengan objeknya adalah candi Borobudur. Dan salah satu sesi Waisak di mana kekhusyukan para Bhiksu terganggu oleh para traveler.

“Bukankah saya juga seorang traveler saat itu, bukan sebagai seorang guide?”

Menjelang Maghrib di ketinggian Borobudur, Waisak 2013 - courtesy of jarody hestu

Menjelang Maghrib di ketinggian Borobudur, Waisak 2013 – courtesy of jarody hestu

Hari Minggu kemarin setelah Waisak saya banyak berkicau di twitter dengan hashtag #waisak. Beberapa hal menyangkut (more…)

Warna-warni

DSC_8956

cekoyah duyu..ayaikum ^^ v

cekoyah duyu..ayaikum ^^ v

Kaos sekolahmu berwarna-warni mas, ^,^ v

Rumah kami (dikontrakkan)

Ruang tamu yang tetap menyimpan kenangan-kenangan masa lalu

Ruang tamu yang tetap menyimpan kenangan-kenangan masa lalu

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di ruang tamu ini masih terpasang 2 gambar Masjidil Haram yang berbingkai. Saya lupa semenjak kapan Bapak memasangnya, kalau tidak salah ingat semenjak saya SMP. Itu berarti di pertengahan dekade 90-an. Yang masih bertahan awet tentu saja kursi kayu berukir dengan alas duduk dan sandaran dari anyaman rotan ini. Kalau yang ini saya tak ingat kapan ada di sini, lha wong lebih tua usia si kursi daripada saya, hehe. Begitupun 2 foto keluarga berbingkai ketika saya masih berusia 6 bulanan dalam pangkuan Ibu. Tak pernah diturunkan oleh Bapak. Batin saya, kenapa tidak diturunkan dan diganti dengan foto keluarga terbaru ya? Hehehe.

Rumah masa kecil saya sebelum sekarang berkelana ke mana-mana. 17 tahun dekat dalam bimbingan orang tua di Semarang. Dan memang selama 13 tahun terakhir ini lebih akrab dengan Jogja, eh..lebih tepatnya Bantul, hehe.

2 gambar Masjidil Haram tersebut adalah perwujudan keinginan Bapak Ibu, belum tercapai hingga saat ini. Mungkin saja Allah sedang menguji kesabaran Bapak dan Ibu tak henti-hentinya. Tak ada doa yang lebih mulia dari seorang anak kecuali mendoakan mereka agar selamat dunia dan akhirat dan tentu saja diberikan kemudahan Allah untuk sesegera mungkin menunaikan ibadah haji. Aamiin Yaa Rabb.

Bapak sudah berusia 68 tahun saat ini, sementara Ibu berusia 56 tahun. Tiada yang terlambat, sekarang saatnya Pak, Buk. Bersama kita pindah ke Jogja, dekat dengan anak-anak, dekat dengan cucu. Lalu kita kontrakkan rumah ini. Ini salah satu jalan terbaik. Bapak pensiunan PNS yang menerima pensiun tak seberapa tiap bulannya, sementara Ibu menjual bensin eceran dan gas 3 kiloan di warung samping rumah. Tentu saja masih cukup berat, sementara anak-anaknya juga belum mampu untuk mengusahakan dana yang besar. Dengan mengontrakkan rumah ini, insya Allah hasilnya bisa buat sangu berhaji. Aamiin Yaa Rabb.

“Tapi mohon jangan dijual, tak rela sebagai anak jika rumah ini harus dijual. Sedih, terlalu banyak kenangan yang kita jalani bersama di sini. Saya mohon jangan dijual. Ingat kan Pak, Bu’, tahun 1982 (more…)

Angkringan Tetap Membumi

Masyarakat menikmati sajian gratis

Masyarakat menikmati sajian gratis

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sedikit cerita dari Festival Angkringan Yogyakarta, 11-12 Mei 2013. Monggo diwaos, nuwun 🙂

Tak seperti biasanya, Bapak-bapak dan ibu-ibu ini mengenakan pakaian batik saat melayani para pembelinya. Dari mulai menyalakan arang, memasak air dalam ceret, lalu menyajikannya. Begitu rapi, mungkin saja dengan aroma wangi parfum di tubuh mereka, hehehe, hanya menebak. Gerobag mereka pun lain dari biasanya. Hiasan berwarna-warni yang sedap dipandang. Ada hiasan wayang kecil-kecil, bendera Indonesia, lambang Ngayogyakarta Hadiningrat, lilin-lilin dan lampu senthir yang rapi dan diperhias serta aneka hiasan lainnya. Namun tak menghapus trademark gerobag dengan warna coklat, warna khas Jawa, warna tanah, membumi.

Iya, gerobag angkringan yang membumi.

Ada sekitar 40 gerobag angkringan berpartisipasi. Hari ini adalah hari festival untuk mereka. Mereka yang telah membangun eksistensi usaha kuliner angkringan di Jogja. Meneruskan usaha orang tua mereka dari dekade 50-90an saat gerobag-gerobag angkringan mulai berpindah dari daerah asalnya, Klaten ke Jogja. Atau mereka yang baru belajar wirausaha angkringan seiring semakin ramainya usaha kuliner ini. Tampak beberapa grup angkringan yang hadir seperti Maguwoharjo, PKL Mrican, Depok, Kranggan dan lainnya. Rata-rata mereka yang hadir bukan berasal dari angkringan-angkringan yang ikonnya telah dikenal para wisatawan, seperti angkringan Lik Man (Kopi Joss), Wijilan atau Pakualaman. Mereka yang hadir dalam festival sebagian besar adalah angkringan-angkringan pinggir jalan yang belum dikenal orang banyak.

***

Paradigma angkringan telah berubah semenjak kuliner ini mulai hadir di Jogja. Angkringan Lik Man adalah generasi pertama di tahun 1950 an. Sebagian besar penjualnya memang berasal dari daerah asalnya, Klaten. Dan lama kelamaan terjadi eksodus untuk mencari peruntungan di kota yang lebih ramai, Jogja, dengan membawa gerobag beroda dua.

Dulu, kuliner ini adalah (more…)

Milik siapa?

moving together copy

..menampar kembali diri sendiri

Tanah

kuning

Tak ada salahnya berpijak di atas batuan..
..bukankah batuan sesuci tanah?
..tapi salah jika lupa turun,
..dan tiba-tiba mendewakan ketinggian di atas segalanya.
..itu tak beda halnya dengan menyembah selain Allah.

Lupa bahwa kita itu seharusnya tetap berpijak kepada tanah.

..tak berpijak kepada materi,
..tak berpijak pada kekuasaan,
..tak berpijak kepada nikmat duniawi semata,

sadarkah bahwa petualangan terbaik adalah mengenal manusia lain..
maka turunlah, dan bercengkeramalah dengan budaya-budaya di lerengnya..
berjama’ah tiap 5 waktu di surau-surau kecilnya..
..itulah kenapa manusia diciptakan bersuku-suku,
..untuk saling mengenal.

..dan akhirnya kita tak akan pernah tahu kapan kembali kepada tanah.
..bermanfaatlah.

sekolah

Jogja, 30 April 2013
be brave
~ hestu

indonesiawayang.com

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Wayang Ku

Satu blog untuk wayang-wayangku

PALESTINE FROM MY EYES

Generating a fearless and humanising narrative on Palestine!

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Nourish Griapon

I'm nourish

scriptamanent

"verba volant, scripta manent"

WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

krokettahu

menyelesaikan masalah dengan masalah

kalifadani

Yogi but Punk!

Dongeng Geologi

Geologi, Lingkungan, Energi dan Kebencanaan